Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Catatan Kritis

Awal Dan Akhir Yang Baik

Good starting point , awal yang baik sangat penting sebagai momentum memulai banyak hal. Tanpa awal yang baik akan banyak waktu dan energi yang terbuang. Sebagai ilustrasi, bandingkan aktivitas harian akan terasa ketika senyum menghiasi bibir kita pada saat bangun tidur dan sebaliknya, ketika amarah menguasai kita. Namun tidak semua yang diawali dengan baik akan menjamin akhir yang baik, ketika kita tidak bisa serius menjaganya. Akhir yang baik,   happy ending , atau   husnul khotimah , inilah yang akan terkenang sepanjang masa. Boleh jadi kita dalam suatu masa menjadi bagian episode kehidupan yang “gelap” atau menjadi bajingan (maaf), tetapi kalau kita mati sebagai orang alim, orang akan mengenang yang terakhir. Persis ketika naik pesawat, bisa jadi ada turbulensi di angkasa, tapi senyum dan perasaan lega akan segera muncul ketika pilot berhasil melakukan   soft landing , pendaratan yang mulus. (Baca: Mengukir Sejarah Kehidupan ) Sebaliknya, seorang kyai kalau pada akhir hayatny

Sadar atau Tidak

Pernahkah Anda mendengar istilah ‘memplokoto’?. Kalau kita searching di google istilah ‘memplokoto’ berasal dari bahasa jawa yang sinonimnya dipulosoro. Contoh; si Andi ‘memplokoto’ si iwan, itu artinya sadar atau tidak sadar si Iwan telah dipentung dari belakang oleh si Andi walaupun kelihatannya si Andi menolong si Iwan. ( nama Andi dan Iwan hanya ilustrasi ) Kalau kita cermati kejadian senada banyak terjadi di organisasi maupun di lingkungan masyarakat. Telah banyak pembahasan baik di forum resmi maupun tidak resmi tentang kritikan-kritikan tentang suatu kebijakan tetapi tentu saja banyak yang beranggapan ‘kenapa kita ngurusi yang tidak perlu’, mungkin saja topiknya dianggap tidak menarik atau tidak seksi untuk sebagian orang. Pertanyaanya, sadarkah kita telah diplokoto?. Seandainya kita sadar, sudah bisa dipastikan kita hidup dengan keputusasaan atau kita menganggap kita terlalu lemah. Seandainya kita tidak sadar dan kita menikmati pristiwa demi pristiwa, sesungguhnyalah

Kemalasan Sosial Dalam Organisasi

Timbul suatu pertanyaan,  Mengapa ketika semakin banyak orang yang terlibat dalam sebuah organisasi, tidak menjadikan organisasi semakin maju, paling tidak ada kecepatan kemajuan seperti yang diharapkan?. Contoh kongkrit, ketika dosen memberikan tugas kelompok kepada mahasiswa, hasilnya tidak lebih baik dibandingkan tugas individual. Disebuah organisasi, tim yang bertaburan tidak memberikan hasil yang optimal.  Padahal banyak orang mengatakan,  banyak kepala akan lebih baik. Benarkah begitu? Untuk menjawab permasalahan tersebut, kita perlu membaca  buku karangan Rolf Dobelli, The Art of Thinking Clearly.  Disalah satu bab pada buku ini membahas tentang:  WHY TEAMS ARE LAZY .  Jawabanya adalah  social loafing , "kemalasan sosial". Bisa jadi, inilah jawabanya.  Tetapi, kita harus melihat konseptualisasi   social loafing   memberikan jawaban yang imajinatif. Untuk memahami   social loafing , bayangkan lomba tarik tambang berjamaah. Berdasar eksperimen yang dilakukan oleh

Kendali Diri dan Kejahatan Siber

Jika kita mau meluangkan sedikit waktu melirik beragam berita akhir-akhir ini, ada fenomena sosial yang perlu mendapatkan perhatian kita, selain kasus korupsi yang tidak henti, yaitu fenomena kejahatan siber ( cyber crime ). Kejahatan ini maujud dalam banyak bentuk, mulai dari akses tanpa hak ke sistem komputer, pencurian data, sampai dengan penyebaran konten pornografi dan pelecehan online. Sialnya, setiap pengguna teknologi informasi dan komunikasi, terutama Internet dan segala macam   gadget   pengaksesnya, rentan sebagai korban sekaligus pelaku.   Kok   bisa? Saat ini, sebagian besar dari kita, tidak hanya sebagai konsumen konten digital, tetapi juga sekaligus sebagai produsennya. Kombinasi kedua peran inilah yang sering disebut dengan prosumen (produsen dan konsumen) atau   prosumer   ( producer and consumer ). Hadirnya teknologi Web 2.0 dan beragam   gadget   pintar telah memfasilitasi peran ini. Berita pembuatan dan penyebaran video dan foto tidak senonoh oleh siswa SMP

Kesibukan, Sikap, dan Perilaku Kita

Barangkali kita, khususnya yang tinggal di kota, memang terlalu sibuk. Urusan kita untuk kepentingan kita sendiri begitu banyak, sehingga jatah waktu yang 24 jam rasanya tidak cukup. Coba hitung sendiri; berapa jam untuk bekerja mencari nafkah? Berapa untuk olahraga termasuk senam pagi agar kondisi tubuh fit? Berapa untuk rekreasi termasuk “rekreasi dinamis” untuk menyegarkan kembali fikiran yang stress? Berapa untuk kerja-kerja sosial seperti arisan dan sebagainya? Berapa untuk kegiatan-kegiatan organisasi ini itu? Berapa untuk istirahat dan tidur? Lalu membaca koran/majalah, nonton tv dan sebagainya dan seterusnya? Belum lagi jika dihitung ‘kegiatan’ menunggu dalam kemacetan lalu lintas. Jadi umumnya kita memang tak cukup punya waktu untuk njlimeti persolan yang tidak atau tidak segera tampak ada kaitannya langsung dengan kepentingan diri kita sendiri? Kiranya untuk persoalan-persoalan yang seperti itu, ‘partisipasi’ kita cukuplah dengan meramaikan sambil lalu bersam

Korupsi dan eProcurement

Image by:  vimeo.com BEBERAPA  hari yang lalu, Transparency International kembali meliris Corruption Perceptions Index (CPI) 2013 teranyarnya. Dari lima negara terbersih, empat di antaranya adalah negara Skandinavia: Denmark (dengan skor 91), Finlandia (89), Swedia (89), dan Norwegia (86). Negara ‘terkotor’, dari 177 negara yang disurvei, adalah Somalia (8), Korea Utara (8), dan Afganistan (8). Indonesia berada di peringkat 114, naik empat tingkat dari tahun 2012 (118), meski dengan skor yang sama, 32. Konsisten.  Adakah yang aneh? Bukankah dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah menjalankan banyak inisiatif untuk memerangi korupsi? Tetapi menurut CPI ini, nampaknya belum berdampak. Salah satu inisiatif yang menurut saya, berhasil, adalah sistem eProcurement, pengadaan barang/jasa online. eProcurement sangat penting dalam perang terhadap korupsi di Indonesia. Pada tahun 2011, data Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menunjukkan bahwa 80% dari 55.000 pengaduan yang masuk terk

Partai NASDEM Membuat Ponsel "NASDEM Phone"

Selain getol berkampanye, Partai Nasional Demokrat yang lebih dikenal dengan Partai Nasdem ini pun ternyata membuat ponsel pintar (smartphone) yang dipersembahkan sebagai alat komunikasi untuk para kadernya. Smartphone yang dikenalkan pada Kongres Nasdem tanggal 26 Januari 2013 lalu di Jakarta Convention Center ini diberinama “Nasdem Phone’, dan ditawarkan dalam dua model yakni NasDem Phone ND930 dan NasDem Phone ND950. Nasdem Phone ND930 dan ND950 merupakan sebuah ponsel pintar berbasis Android, dan didukung layar sentuh kapasitif multi-touch. Bedanya, ukuran layar sentuh yang dimiliki NasDem Phone ND950 lebih besar disbanding ND930. Selain itu, fitur yang dimiliki NasDem Phone ND950 juga lebih tinggi dibanding ND930. Salah satunya adalah kamera. NasDem Phone ND950 memiliki kamera depan berkekuatan 2 megapiksel dan kamera belakang beresolusi 8.0 megapiksel. Sedangkan Nasdem Phone ND930, kamera depannya sebatas 0.3 MP (VGA) dan kamera belakang berkekuatan 3.2 MP. Untuk koneksi d

Uji Kejujuran Iklan Perguruan Tinggi

’’Dalam dunia periklanan (advertising) kontemporer, keberhasilan sebuah iklan adalah ketika ia mampu ’menipu’ secara cerdik setiap konsumen, sehingga pemakai barang / jasa tanpa reserve mengikuti apa yang dikehendaki sang produsen, dengan suka rela dan kesadaran penuh’’ (Albert Hill, dalam Advertising’s Image, 2002:104). Manajemen PT di Tanah Air kini memasuki tata kelola gaya university entrepreneurship. Sejak 10 tahun terakhir, berbagai PT membangun citra pelayanan kepada masyarakat melalui perang iklan. Bak politisi yang sedang menjaring suara pemilih dalam pemilu, setiap memasuki tahun ajaran baru, media dibanjiri iklan perguruan tinggi, dengan beragam bentuk dan model. Teknik pencitraan melalui pemasangan iklan di berbagai media itu terbukti efektif menjaring calon konsumen untuk jatuh hati, dan akhirnya menentukan pilihannya. Hal ini membuktikan, iklan yang dikemas apik tak hanya mampu membangun dan memulihkan citra suatu produk, tetapi juga sukses ’’menipu